Halaman

Kamis, 27 Oktober 2016

BENARKAH ANDA DI ATAS ILMU?

Seorang muslim adalah seseorang yang keyakinannya, ucapannya dan amalnya dibangun diatas ilmu.

Namun sayang bahwa perselisihan yang berujung perpecahan di kalangan umat islam ini tidak bisa dihindari yg antara lain penyebabnya adalah memahami dalil dg apa kata tokoh panutannya (pemahaman masing2 golongan) sehingga menggiring kepada fanatisme golongan/mazhab.

Lantas bagaimana memahami dan mengamalkan Al-Quran dan As-sunnah ini agar lurus dan menjauhi perpecahan?


Rasulullah telah menuntunkan kepada kita, bahwa di dalam memahami Al-Quran dan Sunnah hendaknya sebagaimana yang dipahami para sahabat, (bukan pemahamannya masing-masing). Allah berfirman (artinya)
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan ORANG-ORANG YANG MENGIKUTI MEREKA DENGAN BAIK, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Ayat di atas menyebutkan bahwa orang-orang yang diridhoi oleh Allah di dalam beragama adalah para sahabat (Muhajirin dan Anshar) dan ORANG-ORANG YANG MENGIKUTI PARA SAHABAT DENGAN BAIK. Sehingga orang-orang yang menyelisihi cara beragamanya para sahabat, maka ia telah terjerumus ke dalam kesesatan.

Allah Ta’ala telah mengancam orang yang menyelisihi jalan mereka (para sahabat) dengan FirmanNya (yg artinya):
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan MENGIKUTI JALAN YANG BUKAN JALAN ORANG-ORANG MUKMIN, maka Kamibiarkan ia larut dalam kesesatan yang telah dikuasainya itu dan KAMI MASUKKAN IA KE DALAM JAHANNAM, DAN JAHANNAM ITU SEBURUK-BURUK TEMPAT KEMBALI.” (QS.An-Nisa: 115)

Yang dimaksudkan dengan orang-orang mukmin ketika ayat ini turun adalah para sahabat. Barangsiapa yang menyelisihi jalan mereka akan terancam kesesatan dan jahannam.

Dengan demikian, ketika seseorang ingin mengetahui apa maksud dan makna yang terkandung di dalam Al-Quran dan As-sunnah, maka lihatlah terlebih dahulu bagaimana perkataan dan pemahaman para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Sehingga perpecahan dapat dijauhi dan kesesatan tidak akan tersebar luas di tengah  masyarakat.

Mari jauhi perpecahan dan  fanatisme golongan?

Suatu ketika, Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma ditanya, “Kamu berada di atas millah Ali atau millah Utsman?”. Maka beliau menjawab, “Bahkan,saya berada di atas millah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihatal-Ishbah, hal. 86)

Itulah seharusnya sikap seorang muslim. ketika terjadi perselisihan di dalam hukum, pendapat atau madzhab, maka ia tidak terlalu fanatik terhadap salah satu madzhab/pendapat atau golongannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar