Laman

Sabtu, 08 September 2012

Surat Terbuka untuk Teman-teman MTA

Tidak disangka blog yang saya buat di akhir Ramadhan 1433 H ini mendapat sambutan yang cukup banyak. Ada yang memanfaatkan blok ini untuk membenarkan kebenciannya pada MTA, ada pula yang merasa diserang dengan blok ini, lantas ia mengumbar amarahnya dengan mengarahkan anak panahnya kepada manhaj salaf.

Maaf.... sekali lagi maaf teman-teman! Jangan umbar amarah kalian! Saya menulis bukan karena kebencian saya kepada kalian, saya mencintai kalian semua, saya banyak belajar dan dibesarkan bersama kalian.

Teman-teman,
Dari sebagian komentar kalian tampak sekali ketidaksukaan dan kebencian dengan apa yang saya tulis, maka sejak muncul komentar-komentar yang menyerang dan tidak sesuai tema/judul dengan terpaksa saya delete dan selanjutnya ada kebijakan moderasi untuk kebaikan bersama.

Teman-teman,
Saya mencintai kalian semua, saya menulis bukan karena kebencian.... jangan kalian salah faham, tidak ada fitnah dan kedustaan apa yang saya tulis, bahkan sebagian komentar yang muncul semakin membenarkan apa yang saya tulis. Yang saya tulis adalah pengalaman pribadi yang saya ingin berbagi kepada kalian, bila ada yang tidak sesuai realita, kalian bisa mengoreksi dan meluruskannya. Bisa jadi  apa yang saya tulis ini sudah mengalami perubahan setelah saya tidak lagi bersama-sama kalian di MTA. Bisa jadi misalnya sekarang MTA mengimani adanya syafa'at Rasulullahi shalallahu 'alaihi wa sallam di akhirat kelak, maka saya akan rujuk dan saya koreksi tulisan saya,.... dan seterusnya begitu juga terhadap masalah-masalah yang lain. Saya tunggu kabar baik kalian!
Barakallahu fiikum!

36 komentar:

  1. kepada saudara bambang surono!!!
    kalo kamu mencintai kami semua, kenapa meninggalkan kita semua!
    dan dari pernyataanmu di atas ini cukup bisa difahami bahwa kamu tidak mencintai dengan cara yang benar dalam kehidupan kebersamaan yang pernah kita jalani bersama.
    Menurut Al ustadz abdullah, ada empat sebab orang keluar dari MTA, yaitu: 1 Tidak bisa memahami pelajaran 2. Tidak ada dukungan dari orang tua 3. Tidak Punya Daya Tahan 4. Selintutan

    Abu Wildan Manang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Abu Wildan, semoga Allah membimbing antum kepada pemahaman salafush shalih.
      Antum cermati tulisan saya 'Mengapa Saya Keluar dari MTA', rasanya cukup bisa difahami!
      Perkataan ust. Abdullah Thufail rahimahullah bukanlah dalil, apalagi sebagai alat untuk mengukur/menimbang tindakan seseorang. Semoga antum terhindar dari ta'ashub yang merupakan pangkal hizbiyyah.
      Demikian, semoga bermanfa'at.

      Hapus
    2. Ustadz Abu Wildan Zaenal Ahmad,
      Jazakumullah khoiron perhatian anda

      silakan baca " Akan Muncul Da'i-Da'i Yang Menyeru Ke Neraka Jahannam " dalam blog ini.
      hadits Hudzaifah tersebut saya yakin anda sering mendengar dan mungkin juga sering menyampaikan, diakhir hadits tersebut jelas diperintahkan untuk menjauhi Firqoh walaupun sampai mati menggigit akar pohon. maka keluar dari MTA (apalagi yang sudah bai'at) adalah sebuah kewajiban mentaati Rasulullah untuk menjauhi firqoh, dan bentuk kecintaan ketika melihat saudara yang lain masih menempuh jalan yang menyelisihi sunnah maka dibuatlah blog ini.
      semoga ustadz ingat bahwa seringkali diingatkan di MTA untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya, dan untuk rujuk kepada suatu dalil ketika dalil itu memang lebih benar. wallahu a'lam

      Hapus
    3. mau nanya kepada abu wildan
      kenapa ada madzhab yang banyak?
      padahal pendirinya saling menghormati dan menyayangi karena Allah saja?
      coba tanyakan kepada ustadz Abdullah menurut ustadz Abdullah : tidak bisa memahami pelajaran itu apakah karena yang belajar bodoh, atao pelajarannya terlalu sulit atau memang ga masuk akal? atau bertentangan dengan dalil yang lebih kuat?

      Hapus
  2. Maaf boss...

    judul blognya terlalu vulgar dan berani.....!!!

    semoga kedepannya blog dakwah ahlussunah ini lebih baik lagi.
    syukron.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, aku menilai jg begitu. Semoga lebih mencerminkan dakwah ahlussunah. Niatan dakwah, tanpa disadari menyakiti saudara muslim lain. Smoga tdk menjadi sperti saudara2 kita yg biasa nulis "HTI – MTA – PKS – SALAFI dll” = wahabi = sesat...

      Ini yg menyejukan:

      http://www.darussalaf.or.id/
      http://www.salafy.or.id/

      Hapus
    2. setuju dengan pejuang

      Hapus
    3. mari kita belajar karakteristik para sohabat, salah satu contoh adalah seorang yang akan meluruskan Abu Bakar Ash shiddiq dengan pedang

      setiap orang punya karakteristik dan type sendiri. pertanyaannya: dengan dakwah yang sejuk apakah seseorang akan lantas mengikuti? jangan jangan hanya mendengarkan / menelaah sambil ngantuk

      Hapus
    4. sy setuju blog ini sebab MTA dlm berdakwah tdk menyejukkan hati,tetapi malah menimbulkan emosi bagi warga NU.Tdk rohmatan lil ngalamin.amalan NU selalu di-salah2kan.pd hal qur'annya kan jelas.famayya'mal mitsqoladarrotin khoeroyyaroh.

      Hapus
  3. Pak Bambang Sarono yang terhormat,
    kalau anda mencintai kami,
    apakah pantas memfitnah kami,
    dengan cerita-cerita bohong anda???

    kalau anda punya keyakinan sendiri,
    SUDAHLAH
    AMALKAN UNTUK DIRI ANDA,
    mari kita saling menghormati!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. afwan Mas bisa tolong disebutkan fitnah dan cerita2 bohong?

      terhadap umat Islam yang tahlilan dan yasinan apa juga dikatakan:
      SUDAHLAH
      AMALKAN UNTUK DIRI ANDA,

      bukankah MTA berusaha keras menasehati mereka?

      Hapus
    2. berilah nasehat, karena nasehat itu bermanfaat bagi orang mukmin

      Hapus
    3. saya saat ini masih aktif menjadi pengajar di salah satu instansi pendidikan MTA.
      apa yang di tulis di blog ini 100% benar tanpa fitnah apapun, saya sendiri lebih condong dengan pemahaman yang di sampaikan oleh bpk bambang,, saya mulai menyadari kekeliruan-kekeliruan pemahaman dari MTA sejak saya muai memperdalam ilmu dengan almarhum ustz Abdullah Sungkar, ustadz Abu Bakar Ba'asyir maupun ustadz Abdullah Manaf Amin.. buat rekan-rekan yang ada di solo mungkin tidak asing dengan nama-nama di atas,
      tapi sampai saat ini saya juga belum keluar dari MTA dikarenakan saya sendiri juga tdk pernah ber ba'iat maupun menulis biodata, saya hanya menghadiri pengajian yang ada di cabang saja setiap seminggu sekali.

      Hapus
  4. Ali Imran [3:104]

    Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

    Saranku untuk semua: jadilah organisasi sebagai alat perjuangan. Bukan menjadikan toghut.

    Menurutku, org yg masuk MTA atau SALAFI (sbg organisasi) jika menganggap hanya organisasi ini yg "BENAR - LURUS" sdh menjadikannya toghut.

    Tetapi jika ia masuk atau membuat organisasi, dan menganggap hanya sbg majelis ilmu, alat utk mengamalkan dan memperjuangkan islam secara berjamaah mk tdk termasuk menciptakan firqah2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jazakallohu khoir sarannya..
      refleksi nasehat Uztad MTA dulu.. "sebelum berjuang kita harus memahami apa itu Islam.. jangan2 yang kita perjuangkan bukan Islam..
      itulah pentingnya menuntut Ilmu.."

      mari kita kembali pada Doktrin Pentingnya Menuntut Ilmu.. terutama Aqidah.. (yang ternyata tidak diajarkan mendalam)

      Hapus
  5. alhamdulillah ,...terimakasih akh abu faris..., karena tulisan semisal anda yg an cari(dari orang yg pernah merasakan menjadi warga MTA), krn saudara sy ad yg keranjingan dg pengajian MTA,pd awalnya sy senang kr ad saudara an yg mulai mau mengenal islam berdasar alqur,an & hadits, tapi setelah sy cermati kok ad banyak kejanggalan,....mulai dari muslim yg kekal di neraka, sholat jum'at 2 rakaat walaupun dikerjakan sendirian,..tdk najisnya kotoran binatang yg diharamkan....dll, alhamdulillah dg tulisan antum sy mulai ad pencerahan untuk MTA(Majelis Terjemah Alquran) atau kata antum MTA(Majelis Tafsir Akal) karena tdk merujuk kpd pemahaman salaful ummah, jazakallohu khoiron

    BalasHapus
    Balasan
    1. Do'akan saudara kita mendapat hidayah dengan ilmu nafi' yaitu manhajnya salafus sholih

      Hapus
  6. mas mas admin, aku jadi bingung nie,.. sebenarnya sing bener siapa sih ,.. ?

    panjenengan merasa bener ngak ,dengan apa yang panjenengan pelajari saat ini,.. ?

    terus se umpama panjennegan nanti berpindah ngaji dan keluar dari tempat panjenengan ngaji saat ini

    apa panjenengan akan berbuat hal yang serupa..

    mohon maaf kalau ada komentar ane yang ngak pas . " saya orang yang belum pintar "

    BalasHapus
  7. Cukuplah kisah Sahabat Salman Al Farisi sebagai jawaban.. Dari majusi, yahudi, nasrani dan akhirnya Islam.. Islam pemahaman sahabatlah yg paling benar.. Semakin jauh dari pemahaman sahabat semakin tersesat.. Ibarat mata air lah sumber air yang paling jernih semakin jauh dari mata air semakin keruh tercampur banyak kotoran..

    BalasHapus
  8. Cukuplah kisah Sahabat Salman Al Farisi sebagai jawaban.. Dari majusi, yahudi, nasrani dan akhirnya Islam.. Islam pemahaman sahabatlah yg paling benar.. Semakin jauh dari pemahaman sahabat semakin tersesat.. Ibarat mata air lah sumber air yang paling jernih semakin jauh dari mata air semakin keruh tercampur banyak kotoran..

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah... Tulisan-tulisan di blog ini sudah menjawab kecamuk dalam pikiran saya selama 7 tahun jadi warga..??..sudah tak ada keraguan sedikitpun sekarang ini mengenai pemahaman Islam mana yg akan saya ikuti..

    Semoga Ust. Abu Faris Tetap istiqomah berdakwah di media seperti ini

    Salam,
    Pemuda yg masih mencari ilmu Ad-din yg haq

    BalasHapus
  10. ini untuk kali pertama saya menemukan blog yang 'berseberangan' dengan MTA, sebelumnya saya termasuk yang suka menyimak pengajian MTA, walaupun saya aktif di Muhammadiyah. Dulu saya menduga MTA dan Muhammadiyah hampir sama, tetapi ketika mendengarkan jawaban2 dari berbagai persoalan agama yang ditanyakan dalam kajian MTA, ada beberapa hal yang janggal, dan seperti lebih mengedepankan akal ketimbang dalil Al Quran dan hadits. Mungkin karena gerakannya sebagai MTA, bukan Majelis Tafsir Hadits

    BalasHapus
  11. Sekedar urun rembug saja. Saya sudah cukup lama ngikuti blog ini dan juga baca komentar2 dulur2 disini. Sesekali timbul keinginan saya ikut berkomentar, tapi entah kenapa kemudian saya batalkan keinginan itu. Karena menurut saya tidak kurang ada manfaatnya.

    Dakwah dalam islam itu sebenarnya (seharusnya) dakwah secara fisik. Kebersamaan dalam jamaah hanya bisa dilakukan secara fisik. Inilah intisari dari islam itu sendiri, menurut saya.

    Islam tidak akan pernah mewujud dan tidak akan menjadi rahmatan lil 'alamin bila sesama orang islam hanya bertemu di dunia maya. Sebab, bagaimana kita akan mengamalkan sholat berjamaah, mengamalkan zakat fitrah, mengamalkan silaturahmi, mengamalkan Ta'aruf, Tafahum dan Takaful bila tidak pernah saling berjumpa?

    Di dunia maya boleh jadi orang berkata 'A' tapi di dunia nyata ternyata berbuat 'B', siapa yang tahu?

    Membaca suatu tulisan baik di dunia maya atau melalui buku atau majalah dan lain-lainya yang serupa itu, pada hakekatnya adalah untuk menambah kazanah/wawasan pemikiran kita. Apakah kazanah itu akan mengubah perilaku atau tidak, hal itu akan nampak dalam kehidupan keseharian kita.

    Dan, pengaruh terbesar dalam amaliah keislaman itu bukan melalui dunia maya, tapi melalui pertemuan rutin di dunia nyata dalam bentuk pengajian serta pergaulan kesharian serta dengan melakukan kerja bareng di darat. Itulah dunia nyata seorang muslim.

    Jadi, perihal blognya sdr Abu Faris Bambang Surono ini, saya rasa tidak perlu kita begitu reaktif atas tulisan-tulisannya dan bersemangat untuk melakukan perbantahan atau perdebatan. Berapa banyakkah yang membaca blog itu? Apakah sebanyak sdr2 kita yang setiap Ahad Pagi datang ke Jihad Pagi? Apakah sebanyak sdr2 kita yang minimal seminggu sekali hadir di cabang-cabang, perwakilan2 dan di kelompok2?

    Sangat-sangat disayangkan bila waktu kita dihabiskan untuk membuat perbantahan disini. Boleh dikata itu adalah cermin sifat boros, yaitu menghabiskan waktu untuk hal yang kurang bermanfaat sementara sangat banyak sdr2 kita yang lain yang tidak kenal komputer, mereka sangat memerlukan untuk bisa saling tawassau bil haq, tawassau bishshabr dan tawassau bil marhamah.

    Jadi, biarkanlah sdrku Abu Faris Bambang Surono menorehkan pengamalan hidup pribadinya.

    Semoga Allah swt memberi hidayah serta barokah buat kita dan juga buat sdrku Abu Faris Bambang Surono.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebenaran tidak diukur banyaknya pengikut dan militansi loyalitas..

      banding "kehebatan" warga mta dengan:
      1. Negara Syiah Iran dengan jumlah penduduk 75 Juta jiwa.. SYiah Iran sangat MIllitan dan taat pada Imam SYiah.. Iran mampu mengembangkan senjata Nuklir..

      2. LDII.. warga LDII mencapai 14,5 juta (VOA ISlam).. mampu mendirikan masjid dibeberapa Negara Eropa, Australia, Saudi Arabia.. warga sangat militan karena diawali dengan BAIAT..

      3. NII..
      4. Ahmadiyah..

      jumlah dan kehebatan ketaatan bukan jaminan KEBENARAN..

      KEBENARAN adalah Al Quran dan Sunnah dengan Pemahaman Sahabat..

      Hapus
    2. itulah mengapa "ashobiyah" bangga golongan merupakan dosa besar dan termasuk syirik.. karena kebenaran Al Quran dan SUnnah diletakkan dibelakang kebanggaan/ kehebatan golongannya...

      Hapus
  12. @nosh cumaja
    1. yang penting adalah dalil, dalil itu apakah shohih?
    2. kalau da'wah Islam harus secara fisik, niscaya kita hari ini tidak akan pernah bisa membaca alquran dan hadits-hadist. kenapa? karena kita tidak pernah bertemu dengan orang orang yang menyampaikannya. lihat aja bagaimana sanad terbentuk, kemudian bagaimana ketika kita menimbang apakah rawi bisa dipercaya atau tidak, sedang kita tidak pernah hidup sejamannya
    3. apakah ada dalil bahwa dakwah harus secara fisik, atau adakah larangan bila dakwah tidak secara fisik? sekali lagi tolong berikan dalil, bukan haya sekedar asumsi
    4. saya beri analogi, apakah suatu kebenaran tidak bisa diambil bila yang mengatakan adalah seorang maling / rampok / begal?

    BalasHapus
  13. Hasan Abu fadhil Al Masarani2 Juni 2013 19.56

    Barokallohufykum kepada para kontributor di blog yang luar biasa ini,semoga Alloh senantiasa menolong antum semua dalam upaya menjelaskan tentang hakikat MTA,tidak banyak mantan MTA yang berani "bersuara" seperti antum,semoga Allo kokohkan kita di atas Sunnah.aamiin

    BalasHapus
  14. Anda sudah lama di MTA, tentu sudah sering merasakan suka duka bersama teman teman di MTA. Kok memutuskan keluar dari MTA gmn? Kalau ada perbedaan pendapat kan lebih baik di musyawarahkan. disampaikan di pertemuan ahad siang. Kalau alasan anda lebih kuat saya yakin MTA mau mengikuti pendapat yang benar tsb meskipun tadinya MTA tidak berpendapat begitu. MTA kan juga pernah berubah pendapat,misalnya tentang adab berdoa. dulu ( waktu saya ikut kajian sekitar tahun 1986 ) kalau berdoa kan tidak mengangkat tangan,tapi sekarang kan boleh mengangkat tangan boleh tidak.Pertanyaan saya sebelum anda pamit keluar dari MTA,apakah anda sudah mendiskusikan perbedaan pendapat itu atau belum?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anonim, rupanya antum lebih senior dari saya di MTA. Semoga antum tidak pernah berhenti untuk belajar, dan tentunya jangan hanya mengandalkan brosur dan pengajian rutin. Ingat, masih banyak kitab para 'ulama yang belum kita pelajari, bahkan mungkin banyak belum kita kenal.

      Benar memang MTA beberapa kali mengalami perubahan thp fikhnya semisal takbir shalat 'ied, do'a berbuka, ...dll, termasuk yg antum sebutkan. Ini juga mengingatkan kita betapa pentingnya ILMU SEBELUM BERDAKWAH. Silahkan ini perlu dicermati!!

      Ada yang janggal dari pertanyaan antum, bukankah saya sudah pamit dengan Pimpinan Perwakilan, Pimpnan Pusat (atau Imam versi MTA)...! Kalau pamit berarti sekaligus bersama asbabnya toh? Apa iya pamit tanpa sebab dan tanpa diskusi apa-apa? Antum cukup senior di MTA, tentu punya akses untuk menelusurinya (kalau mau). Barakallahu fiikum

      Hapus
  15. Yth. Ustadz Bambang Tulisan di blog ini terus terang saya akui bagus,dan nalar karena disertai dalil sebagai alasan ( Mungkin karena saya masih dangkal pemahaman agamanya). Tetapi kalau blog ini dibaca,dicermati oleh orang yang masih awam pengetahuan agamanya ( semisal saya ),padahal saat ini dia sedang haus ilmu agama,sedang berusaha menata hidupnya dengan aturan agama islam yang sesuai tuntunan rosululloh dgn cara rutin mengikuti kajian melalui radio MTA yang disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami,atau mustami yang mengikuti kajian di cabang atau gelombang yang sedang digembleng dengan materi yang kebanyakan akhlakul karimah lalu kan bingung dengan blog ini. semisal dia sependapat dengan anda,terus tidak mau mengikuti kajian MTA lewat radio atau bahkan keluar dari MTA,terus tidak ngaji gimana? ( sebab mau ngaji di MTA ada beberapa yang keliru,mau ngaji yang bermanhaj salaf bingung gak tahu mau ngaji sama siapa? karena saya tanya beberapa teman sy, hampir semua mengaku ahlu sunah wal jama'ah dan bermanhaj salaf. kan lebih baik mengaji di MTA daripada tidak mengaji?betul gak pendapat saya ini. Maaf terus terang saya gak tahu bahasa arab,apabila menilai suatu hadits ini dloif,palsu atau hasan.saya hanya sebatas membaca keterangan saja.Jazzakallahi khairan atas penjelasannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anonim, kalau antum/siapa saja menyadari akan ketergelinciran/kekeliruan MTA tentu sikap yang terbaik adalah memperingatkannya (kalau mampu), dan menyelisihinya/meninggalkannya sebagai bentuk bara' (pengingkaran) terhadapnya.
      Jadi keliru bila antum berpendapat lebih baik ngaji di MTA (walau ada beberapa yg keliru) dari pada tidak mengaji. Orang yang sadar akan kekeliruannya tentu akan berusaha sekuat tenaga untuk memperbaikinya bukan?
      Saat ini kajian yang bermanhaj salaf sangat mudah kita dapatkan kalau kita mau mencari. Jangan bingung, kalau antum perlu informasi silahkan hubungi Kontak Kami.
      Barakallahu fiikum

      Hapus
  16. Anonim, kalau anda sudah mengetahui penyimpangan MTA dan ingin mengaji di kajian yg bermanhaj salaf maka itu sangat mudah sekali. Jika anda ingin mendengarkan radio yg bermanhaj salaf itu juga sangat mudah sekali. Dan jika ingin nonton TV yg bermanhaj salaf itu juga mudah sekali.
    Nah maka dari itu belum apa apa sudah memberikan alasan :"Daripada gak ngaji ya mending ngaji di MTA".
    Maka pertanyaan ini timbul dari rasa enggannya utk meninggalkan kebathilan, dan ini was was dari syaithon belaka. Maka jangan lah tertipu dengn tipu daya syaithon spt itu.
    Ana juga teringat dengan alasan seorang kyai pada saat di mimbar ceramahnya, dia mengatakan :"daripada duduk duduk di tepi jalan atau bahkan mabuk mabukan maka lebih baik dia tahlilan saja toh, "
    Nah apa lantas dibenarkan alasan orang tersebut?? tentu tidak, krna dia telah berpindah dari satu kemaksiyatan menuju kemaksiyatan yg lain.
    Begitu juga masalah ngaji, kajian kajian yg tidak sesuai dengan manhaj salaf adalah menyimpang, maka kita wajib meninggalkan kajian kajian mereka dan memburu kajian kajian manhaj salah di manapun berada. Walaupun hanya dapat dua atau tiga materi tetapi itu jauh lebih selamat dari pada menyimpang dari jalan yg lurus.
    Dan Allah Azza wa Jalla tdk akan menghukummu terhadap apa apa yg belum kau ketahui dan kau tak mampu mengetahuinya.
    Tetapi justru Allah Azza wa Jalla akan menghukum kita tatkala kita tau bahwa itu racun ternyata kita masih nekat menceburkan diri di dalamnya.
    Semoga Allah Azza wa Jalla memudahkan antum. Barokallahufiykum.

    BalasHapus
  17. Saya pendengar setia MTA dan saya rasakan keimanan dan pengamalan agama saya meningkat. Saya belum pernah ikuyt Jihad Pagi serta belum juga mendaftar ikut kajian cabang atau perwakilan.

    Memang sebagian besar saya menerima apa yang disampaikan namun masih ada beberapa ganjangan (yang saya takut hanya karena kekurang imanan saya) jadi berbagai referensi terus saya pelajari, termasuk menemukan blog ini.

    Yang ingin saya tanyakan, apa pendapat ustadz Sukino dan pengurus MTA lainnya saat ustadz mau pamit keluar?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anonim, apa yang antum rasakan saat ini sama dg apa yg saya rasakan waktu baru-baru mengenal MTA. Bahkan karena semangatnya waktu itu, dari Boyolali menuju Kemlayan (tempat pengajian Ahad Pagi) saya tempuh dg sepeda onthel.
      Teruslah antum belajar, semoga Allah membimbing antum menuju hidayah sunnah!

      Adapun pendapat/sikap ust. Kino ketika saya pamit dari MTA, beliau tidak keberatan, tidak menahan... bahkan memperkuat statemen beliau bahwa kalau sudah beda ya lebih baik keluar. Sedangkan pengurus MTA (para ketua perwakilan Jakarta & sekitarnya).. tidak ada komentar terkait statemen MTA, beliau2 ini rata2 mengingatkan tentang persaudaraan dan saling mendo'akan.
      Barakallahu fiikum

      Hapus
  18. Betapa beruntung orang MTA yg sempat mampir ke blog ini, kemudian dia ruju' kepada dalil (bukan kepada apa kata ustadz).
    Barameter kebenaran adalah kesesuaiannya ia kepada quran wa sunnah dg pemahaman salaful ummah, bukan kepada pemahaman al ustadz (pimpinan kelompok sempalan)...

    BalasHapus
  19. Sst.. sst...s..sttttssstt...
    Jangan terus menerus kaya gini..
    Banyak yang senang bertepuk tangan melihat kita bercerai berai.....

    Mari bersatu ...

    BalasHapus